Sang Pembelajar

Sang Pembelajar

Kamis, 28 November 2013

Hasil Jepretan si Penjepret Amatir





Roti Cap Caleg



Pemilu 2014 tinggal menunggu sekitar 5 bulan lagi. Pada 9 April 2013 kita sebagai warga negara yang baik berhak memberikan suara pada Pemilu Legislatif mendatang. Daftar calon legislatif telah ditetapkan oleh KPU. Banyak public figure yang juga ikut bertarung dalam pileg tahun depan. Dan kampanye pun mulai dilakukan oleh para caleg baik caleg DPR pusat, DPRD provinsi, maupun DPRD kabupaten/kota.

Kampanye telah dilancarkan paa caleg, mulai dari memesang baliho, spanduk hingga stiker. Dan alat peraga kampanye ini kadang menjadi alat propaganda dan melanggar aturan dari KPU. Tapi, fakta berkata lain, kampanye sudah mulai gencar dilakukan dengan meningkatkan citra diri dari para caleg.

Uniknya, yang saya temukan sendiri salah satu caleg dari parpol kuning di daerah Kab.Tangerang menggunakan alat kampanye unik tapi justru agak melanggar. Pasalnya, beliau memberikan bingkisan beriti roti dan air mineral kemasan gelas pada acara Kathina (salah satu hari raya Agama Buddha) di salah satu vihara daerah Rancaiyuh.

Beliau yang turut hadir tapi tidak masuk dan mengikuti acara, tapi melakukan bincang-bincang dengan tokoh masyarakat setempat. Yang saya bilang unik adalah bingkisan roti yang beliau berikan sekitar 300 paket, di dalam bingkisannya selain roti terpampang stiker dengan bergambar foto caleg dan no urutnya. Pelanggaran yang saya katakan adalah bingkisan tersebut diberikan pada saat ada acara di salah satu rumah ibadah. Sedangkan berdasarkan peraturan, rumah ibadah menjadi salah satu yang menjadi tempat yang netral dari unsur politik.


Kita berharap masyarakat dapat menjadi pemilih yang cerdas. Sukseskan pemilu 2014 menjadi pemilu yang bersih.. (Apr.)

Minggu, 24 November 2013

Guru...Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Hymne Guru
Cipt: Sartono


Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru

Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku

Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku

Sebagai prasasti terima kasihku

Tuk pengabdianmu

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan

Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan

Engkau patriot pahlawan bangsa

Tanpa tanda jasa




Kamis, 21 November 2013

Konglomerasi “Host” Program TV

Konglomerasi media tentu dengan jelas kita dapat lihat dan rasakan. Media televisi swasta menjadi objek promosi dan kampanye. Perusahaan televisi swasta memang hanya dikuasai oelh segelintir orang, mulai dari MNC Group milik Hary Tanoesidibjo, VIVA group milik Aburizal Bakrie, CT Corp milik Chairul Tandjung dan MetroTv milik Surya Paloh.

Tanpa disadari bukan hanya pemilik media yang memang secara kasat mata tidak terlihat, tapi juga pengisi acara dari program-program TV swasta pun hanya dikuasai leh segelintir orang. Orang-orang itu adalah Olga Syahputra, Raffi Ahmad, dan Deni Cagur. Tiga nama ini merupakan host dari program Tv yang tayang mulai dari pagi (DahSyat-RCTI) dan pada sore hari (Pesbukers-ANTV) dan malam hati hingga tengah malam (YKS-TransTV).

Dan bila diperhatikan mereka bekerja dibawah 3 grup media TV yang berbeda tiap harinya. Setuju atau tidak tiga orang tersebut yang memang selalu berlalu lalang di layar kaca dengan tayang setiap hari. Sekarang ini memang ada beberapa nama yang memang tetap menjadi rombongan Olga dkk, antara lain; Billy (adik Olga), Tara Budiman, Chan Kelvin, Luna Maya, Jessica Iskandar, dll. Dan mereka pun menjadi sebuah tim yang solid yang setiap hari nongol di layar kaca.
Ini fenomena yang memang tanpa sadar kita rasakan, sehingga memunculkan pertanyaan apakah tim mereka ini akan terus menghiasi layar kaca kita? Dan apakah ini bentuk monopoli mereka sebagai pengisi acara yang tenar?

Kita bisa lihat berapa pundi-pundi meraka yang mereka terima dari konglomerasi ini? Meraka mulai nongol dari pagi sampai tengah malam. Apakah industri program TV kekurangan orang kreatif? (Apr.)

Senin, 18 November 2013

Program Televisi Terus Bergoyang

Televisi sebagai salah satu media dengan saluran audio visualnya yang memanjakkan indera para pemirsanya terus menjadi media yang dipilih oleh masyarakat, khususnya di Indonesia. Sebagai media komunikasi massa, televisi memiliki fungsi edukasi, memberi informasi, memberi hiburan dan memuat nilai-nilai moral yang baik bagi masyarakat.

Saat ini, fakta yang ada pemirsa dimanjakan dengan tayangan-tayangan yang hanya berisi konten hiburan. Lalu, bagaimana televisi menampilkan program-program acara yang sebenarnya modelnya sama antar satu stasiun televisi satu dengan stasiun televisi lainnya. Satu alasan yang membuat keseragaman program televisi yang ada pada saat ini adalah setiap program variety show yang memiliki tujuan untuk menghibur pemirsa pasti terdapat goyangan khas-nya. Mulai dari yang terpopuler pada saat ini yaitu Goyang Cesar pada program “Yu Keep Smile” di Trans TV atau Goyang Bang Jali yang awal populernya pada acara “DahSyat” di RCTI.

Menurut pengamatan saya, fenomena Goyang ini mulai tercipta dari program “Opera van Java” Trans7 yang pada saat itu Sule sudah mempopulerkan Goyang Cicilalang. Goyang itu memang tidak sepopuler Goyang Cesar pada saat ini, tapi fenomena goyang ini mulai mem-booming ketika bulan Ramadhan. Mengapa demikian? Karena lewat program-program sahur seperti “Yu Kita Sahur” Trans TV yang mulai memperkenalkan Goyang Cesar dan serta “OVJ sahur” Trans7 dengan Sule yang kembali memperkenalkan Goyang Sundul lah fenomena konten setiap program memunculkan jenis goyang sebagai identitas sebuah program itu mulai menular.

Sekarang ini hampir semua konten program yang bertujuan menghibur pasti ada unsur Goyang sebagai identitasnya agar melekat di hati pemirsanya. Mulai dari yang terpopuler saat ini, Goyang Cesar pada “YKS” yang sampai membuat durasi program lebih dari 3 jam. Lalu, ada Goyang Sundul di “OVJ”, Goyang Bang Jali di “YKS” dan “DahSyat”, Goyang Gaspol “DahSyat”, bahkan pada program “Eat Bulaga” sudah mulai dikenalkan goyang nya.

Pemirsa sebagai penikmat akan terus dimanjakan oleh konten-konten program seperti ini mulai dari pagi hari sampai dengan tengah malam. Fenomena Goyang pada konten program TV ini terus meluas dan entah sampai kapan tren ini akan mulai meredup. Sebagai pemirsa, kita harus bisa lebih pintar dan bijak dalam memilih program TV yang akan kita konsumsi. Dan perhatian bagi para pelaku produksi program-program TV, untuk memperkaya tayangan dengan fungsi-fungsi edukasi yang mendidik, tidak sekadar berpaku pada rating atau keuntungan. (Apr.)

Minggu, 17 November 2013

Konvensi Demokrat, Skenario apa Dibelakangnya?


Konvensi Demokrat telah dipublikasikan kepada seluruh rakyat Indonesia pada Minggu, 15 September 2013 yang lalu. Acara yang diselenggarakan di Hotel Sahid, Jakarta itu mengagendakan perkenalan 11 orang yang mengikuti konvensi Capres Demokrat serta diberikan kesempatan bagi masing-masing peserta Konvensi untuk memaparkan visi dan misinya
masing-masing.

Dari 11 peserta konvensi ini terdapat tokoh yang berasal dari kalangan internal partai, peserta yang diundang unutk mengikuti konvensi tersebut. Terdapat nama-nama besar yang menjadi peserta konvensi, antara lain: Marzuki Alie (Ketua DPR RI, dan Wakil Ketua Majelis Tinggi PD), Dahlan Iskan (Menteri BUMN), Gita Wirjawan (Menteri Perdagangan), Irman Gusman (Ketua DPD RI), dan tokoh lainnya. Nama-nama diatas tentu sudah dikenal publik karena saat ini memiliki jabatan dan masuk dalam pemerintahan. Di lain pihak, ada 2 tokoh yang berlatar belakang militer yaitu Pramono Edhie Wibowo dan Endriartono Sutanto. Adapula peserta dari kalangan diplomat dan akademisi, Dinno Patti Djalal (Duta Besar RI untuk AS) dan Anies Baswedan (Rektor Universitas Paramadina) Sebelas peserta ini akan berkompetisi memperebutkan satu nama untuk diusung oleh Demokrat sebagai calon Presiden pada pemilu 2014 nanti.

Kita akan mencoba menakar siapa kira-kira tokoh yang akan muncul sebagai pemenang konvensi ini. Dilihat dari unsure ketokohan dan popularitas, nama-nama Dahlan Iskan, Gita Wirjawan, dan Marzuki Alie tenty bisa dibilang ada dibarisan depan. Tapi bagaimana dengan kredibilitas dari masing-masing tokoh diatas?

Diadakannya konvensi ini tentu sangat mengejutkan dan akan menimbulkan pertanyaan, apakah Demokrat yang menjadi partai pemerintahan saat ini sedang krisis sosok pemimpin akibat terpaan badai yang membelenggu satu tahun terakhir? Atau apakah memang ini emnjadi skenario dari Demokrat atau bahkan SBY khususnya untuk kembali menarik simpati masyarakat? Kita sebagai masyarakat akan melihat bagaimana sebenarnya mekanisme konvensi ini demi munculnya satu nama yang akan diusung pada Pemilu 2014 nanti. Dan apakah nama yang muncul sudah sesuai dengan skenario yang disusun oleh Demokrat. (Apr.)

Senin, 04 November 2013

Balada Sang Perias Kota



Keringat bercucuran menetes di wajah keriputnya Terik matahari tak menghalangi semangat untuk melaksanakan tugasnya.Semua itu tak digubrisnya, tangannya masih dengan kuat menggenggam senjata andalan.

Sreekk..sreekk..sreekk… suara terdengar diantara suara-suara kendaraan yang berlalu lalang pada Sabtu siang 28 September 2013. Tampak dua wanita tua di bilangan jalan Proklamasi, Kota Tangerang tengah sibuk dengan senjatanya, sapu lidi dan pengki. Minah (58 tahun) dan Sumi (54 tahun) merupakan salah satu dari petugas pembersih dan penyapu jalan yang ditugaskan oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Tangerang. Dengan
topi mandor bangunan, mereka berdua bertugas untuk menyapu jalanan
Jam sudah menunjukkan pukul 12.00, dengan seragam kebesaran mereka yang berwarna oranye, sejenak mereka beristirahat dengan duduk di trotoar sambil minum air di tengah
panasnya cuaca pada hari itu.
Air mineral dalam botol besar pun sudah cukup untuk menghilangkan dahaga mereka. Minah membuka bungkusan pada kantong kresek hitam, sedangkan Sumi masih asyik mengelap keringatnya. Dikeluarkannya dua nasi bungkus yang menjadi jatah mereka untuk makan siang.

Sebungkus nasi yang berisi lauk tahu tempe dengan sayur toge pun dilahap mereka dengan segera. Debu yang berterbangan serta asap kendaaraan yang lewat tak dihiraukannya yang begitu asyik dengan nasi bungkus mereka.
Makan siang pun selesai, mereka saling bercengkrama. Tak terhindarkan keluh kesah mereka setelah bekerja dari pukul 7.30 pagi pun terucap. “Kadang iri liat orang laen udah tua tapi mereka idup nya seneng, gak kaya kita masih kerja di jalanan gini”, keluh Ibu Minah. Sumi menyambung, “ Ya namanya juga kita orang susah, kalo gak gini kita mau makan apa”.

Minah yang merupakan ibu dari dua orang anak itu terpaksa bekerja sebagai penyapu jalan raya. Karena suaminya sudah lumpuh dan tidak bisa bekerja untuk mencari nafkah. Anak-anak Minah sudah berkeluarga, tapi mereka pun sama hanya bekerja sebagai buruh pabrik. Penghasilan anak-anaknya hanya cukup untuk makan keluarganya masing-masing. Dan darimana Minah bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dan obat untuk suaminya?

Tak jauh berbeda dengan Minah, Sumi yang sama-sama tinggal di kawasan belakang Rumah Sakit Sitanala pun menjadi tulang punggung keluarga. Untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dan tiga orang anaknya yang masih ada bersekolah, harus bekerja menjadi penyapu jalan raya. Setelah ditinggal suami karena meninggal dua tahun yang lalu, Sumi bingung bagaimana dia membayar uang kontrakan dan biaya sekolah anak-anaknya.

Ketika disinggung masalah gaji atau upah yang didapat, mereka hanya tersenyum entah menandakan apa. “Ya asal cukup buat makan sama sekolah anak-anak aja”, celetuk Sumi. Minah menambahkan “Tapi emang enak sih kadan kita dijemput sama mobil bak DKP, nanti pulang juga kita dianter sampe rumah”.
Dengan mata yang sayu menandakan kelelahan, mereka sudah mulai bersiap-siap melanjutkan tugasnya. Karena masih sekitar 100 meter lagi jalanan yang belum disapu. Jam kerja mereka yang begitu lama sekitar 9 jam per hari kadang membuat mereka begitu kelelahan, tapi apa mau dikata itu sudah menjadi tugas dan pekerjaan mereka demi merias kota membuatnya terlihat rapi dan bersih.

Tak hanya mengeluh lelah, Sumi dan Minah pun kadang kesal melihat ulah pengandara maupun para pejalan kaki yang selalu membuang sampah sembarang. Merasa tak dihargai, dan merasa dilecehkan kdang muncul dengan semakin banyaknya para pembuang sampah sembarangan. “Kalo sampah-sampah daun kering sih itu wajar yah karena mungkin kena angin, tapi kalo botol, plastik-plastik itu kan bikin jalanan kotor dan gak bagus buat dilihat” curhat Minah.
Melihat banyaknya jumlah sampah botol dan plastic yang berserakan, mereka berinisiatif untuk mengumpulkan sampah tersebut dan dijual kepada pengepul plastik. “Lumayan lah kan buat tambahan”, kata Minah sambil tersenyum. Makanya sekarang apabila mereka dinas sebagai perias kota, maka akan selalu ada satu teman mereka yang menemani, yaitu karung kesayangan. Karung utnuk wadah sampah botol dan palstik.

Di lain sisi sekitar jalan Proklamasi itu merupakan pusat pendidikan di Kota Tangerang, jadi terdapat sekolah-sekolah baik tingkat SMP maupun SMA. Dan juga ada beberapa kantor dinas di bilangan jalan tersebut. Itu pun yang menjadi pekerjaan keras bagi Minah dan Sumi karena anak sekolah yang notabene memiliki pendidikan lebih baik dari dua wanita tau penyapu jalan ini, malah dengan seenaknya mebuang sampah dan tidak memelihara lingkungan. Sumi berujar, “Kadang malah ada yang saya tegor anak-anak kalo buang sampah di jalanan”.

Mengapa mereka kadang berani menegur orang yang buang sampah sembarangan, karena sebenernya bukan hanya mereka “si seragam oranye” yang bertugas merias dan memperindah kota, tapi juga menjadi tanggung jawab semua orang yang merasa dirinya menggunakan fasilitas dan tinggal di kota tersebut.

Meskipun kadang kesal dihati, dan rasa lelah terasa oleh mereka berdua tapi dengan tulus Minah dan Sumi melaksanakan tugasnya sebagai perias kota.

Mari kita hias, rias, dan rawat lingkungan kota tercinta! Bukan hanya “si seragam Oranye” yang bisa jadi perias kota, tapi kita semua juga bisa. Karena merias kota dimulai dari merias diri sendiri dengan sikap dan perilaku yang baik. Terima kasih Perias Kotaku, si seragam oranye.
(Apr.)



Senin, 07 Oktober 2013

Demi Kamu, Aku Rela…


Rendi dan Vira adalah sepasang kekasih, mereka berdua sudah berpacaran selama 8 bulan. Rendi seorang cowo yang setia dan sangat mencintai pacarnya, Vira. Vira seorang cewe yang mengidolai salah satu boyband dari Korea, berbanding tebalik dengan Rendi yang sama sekali gak suka dengan apapun yang berunsur Korea. Setipa hari Rendi begitu dengan sabarnya menjadi pendengar sejati Vira yang selalu bercerita tentang semua hal dari boyband kesayangannya itu.
Rendi yang memang gak suka Korea, terus berusaha untuk seolah-olah interest dengan apa yang setiap hari diceritakan oleh Vira. Dan suatu hari, tersiarlah kabar bahwa boyband idola Vira akan menyelenggarakan konser di Jakarta. Dengan begitu heboh dan penuh harapan Vira ingin sekali nonton konser boyband idolanya tersebut. Tapi yang menjadi masalah adalah harga tiket yang begitu mahal, dan Vira pun mulai kebingungan gimana cara mengumpulkan uang untuk tiket konser itu.
Dan dengan begitu hebohnya Vira bercerita kepada Rendi “Yank.. Boyband idola aku mau konser di Jakarta bulan depan..”. “Ya bagus donk.. terus kenapa? “, ujar Rendi yang gak begitu tertarik. “Ikkhh.. kamu kok gitu banget sih??.. Aku pengen banget nonton nih..”, kata Vira dengan manja. Rendi menjawab “ya kalo kamu mau nonton konsernya, ya kamu harus nabung lah..”. “Aduuh yank, itu tiketnya mahal banget dan gak cukup waktu juga buat nabung… aaahh gimana nih”, Vira makin gregetan. Dengan santai Rendi berkata, “ya kalo gak sanggup beli, gak usah nonton deh..”. Mendengar Rendi berkata demikian, Vira emosi dan berkata, “yaudah terserah deh..kamu emang gak mau liat aku bahagia..kamu gak ngertiin aku..!!”, sambil berlalu meninggalkan Rendi.
Setelah ditinggal oleh Vira, Rendi pun mencoba untuk menghubungi Vira tapi tidak ada respon. Rendi pun mulai frustasi dan bingung dengan keadaan yang dialaminya. Rendi pun mulai berpikir untuk berusaha mencari uang untuk beli tiket konser yang diinginkan Vira. Vira yang ngambek dan tidak mau bertemu Rendi, masih ngebet untuk beli tiket konser itu dan tidak peduli dengan Rendi.
Rendi mulai mencari pekerjaan kesana kemari demi mengumpulkan uang dan membeli tiket konser untuk Vira. Dan akhirnya Rendi pun mendapat kerjaan menjadi pelayan di sebuah resto. Rendi harus membagi waktunya untuk kuliah dan kerja. Demi terkumpulnya uang yang lebih Rendi pun rela tidak makan di kampus selama satu bulan. Rendi merasa uang yang akan terkumpul kurang cukup, Rendi pun terpikir untuk mencari pekerjaan lain setelah pulang dari resto. Andi, teman dekat Rendi yang mengetahui bahwa Rendi sedang berusaha untuk mengumpulkan uang demi membahagiakan pacarnya pun memberi pekerjaan kepada Rendi sebagai penjaga warnet pamannya.
Dan akhirnya uang untuk membeli tiket konser pun terkumpul, Rendi segera bergegas untuk mencari tempat penjualan tiket karena takut kehabisan. Tiket pun akhirnya sudah bisa didapatkan. Rendi pun segera menuju rumah Vira untuk memberikan tiket konser. Sesampainya di rumah Vira, Rendi terus menunggu di depan pintu tapi Vira masih belum mau menemui Rendi. Akhirnya Rendi pun meletakkan tiket konser untuk Vira di bawah pintu rumahnya. Rendi memutuskan untuk pulang kembali melaju sepeda motornya. Tapi naas, Rendi yang mengantuk karena sering bedagang, menabrak trotoar dan mengalami kecelakaan. Rendi pun mengalami luka serius dan di bawa ke rumah sakit.
Sementara Vira, yang masih marah dengan Rendi mendapat telepon dari Andi bahwa Rendi mengalami kecelakaan. Di telepon itu pun Andi menceritakan bagaimana perjuangan Rendi demi membahagiakan Vira. Rendi rela bekerja siang malam demi mengumpulkan uang untuk tiket konser yang diinginkan Vira. Mendengar kabar demikian, dengan isak tangis dan air mata yang terus menetes, Vira bergegas lari keluar untuk pergi menemui Rendi di rumah sakit. Dan pada saat Vira membuka pintu rumahnya ada sebuah amplop putih. Dan Ketika dibuka amplop tersebut berisi tiket konser yang diinginkan Vira dan ada pula sepucuk surat yang ditulis oleh Rendi.
“Sayangku Vira,, maafkan aku karena kemarin aku udah bikin kamu kecewa dan marah sama aku.. aku bukan gak ngertiin kamu, aku sayang kamu..
Aku juga mulai mikir buat kasih sesuatu yang bener-bener pengen selama ini..Cuma ini yang bisa aku kasih buat kamu..ini yang bisa aku usahain selama ini..
Semoga kamu seneng nerima tiket konser yang kamu idam-idamkan ini..
Aku sayang kamu..
Love You.. “

writed by: Aprianto
Fakultas Ilmu Komunikasi
Universitas Tarumanagara

Salahkah Bila Beda?


Senin pagi jam menunjukkan pukul 7 kurang 5 menit, di Fakultas Seni Rupa dan Desain di salah satu univesitas ternama di Jakarta sedang berlangsung masa orientasi pengenalan kampus. Fariz merupakan lulusan SMA asal Solo, terlihat bergegas lari dengan terburu-burunya karena kesiangan. Dan juga ada Christy, mahasiswi baru yang juga akan mengikuti orientasi pengenalan kampus terlihat tergesa-gesa dengan tas besar berisi peralatan yang diperintahkan para senior untuk dibawa.
Fariz bergegas lari karena takut telat, dengan nafasnya yang tergesa-gesa lalu tiba-tiba, Bruukkk!! Fariz menabrak seseorang dan orang itu adalah Christy. Barang-barang yang dibawa Christy pun berantakan jatuh. Dengan segera, Fariz mengambil barang-barang Christy yang jatuh. Christy yang juga berusaha membereskan barang-barangnya pun sambil menggerutu, “loe kalo lari pake mata dong!”. Fariz yang merasa bersalah meminta maaf kepada Christy, “sori..sori.. gue buru-buru soalnya, udah telat nih” sambil bergegas lari kembali.
 Sesampainya di tempat orientasi, ternyata Fariz pun sudah telat. Para senior pun menghukum Fariz dengan menyuruhnya untuk berdiri di depan teman-teman mahasiswa baru lainnya. Gak lama setelah itu, dengan santainya Christy berjalan seolah tanpa dosa yang padahal dia udah telat banget. “Heh, kamu udah telat malah santai-santai aja jalannya..!!”, teriak Helen salah satu senior. “Maaf kak, tadi saya ditabrak orang yang lari-lari gak jelas terus barang-barang saya berantakan..”, kata Christy. Helen dengan emosinya “udah sekarang kamu dihukum, kamu berdiri didepan tuh.. bareng sama cowo itu”. Dengan melasnya Christy berjalan menuju depan barisan mahasiswa baru dan terkejut setelah melihat Fariz. “Hah? Elu juga anak Desain? Gara-gara lu nih gue ikut dihukum juga..” kata Christy.
Hukuman pun selesai, dan ternyata Fariz dan Christy ada dalam satu kelompok orientasi itu. Dan mereka pun saling berkenalan satu dengan yang lainnya. Ketika senior menyuruh untuk mengeluarkan alat tulis, Fariz gelisah karena alat tulisnya ketinggalan gara-gara kesiangan. Christy yang melihat Fariz kebingungan mencari pinjaman alat tulis pun meminjamkannya kepada Fariz, “nih pake punnya gue deh, gue bawa lebih..”kata Christy. “Hmm..Thanks yah..Sori gue pinjem dulu nih..untung aja lu baw lebih yah..”
Setelah melewati masa orientasi itu, Fariz dan Christy pun makin dekat. Mereka selalu jalan bareng, kerjain tugas bareng dan makan bareng. Intensitas mereka dalam ketemu pun mulai menumbuhkan benih cinta pada hati Fariz. Fariz pun bingung dengan apa yang dirasakannya saat itu.

Dilain sisi, Christy pun yang diam-diam ternyata juga mulai suka dengan Fariz. Bagi Christy, Fariz merupakan cowo yang baik dan perhatian. Dan pada satu kesempatan, Christy mulai ragu dengan apa yang dia rasakan terhadap Fariz. Pada saat itu, Jumat siang, Fariz meminta izin kepada Christy karena Fariz mau sholat Jumat. “Christy, gue mau ke mesjid dulu yah mau sholat Jumat..”kata Fariz. “Ohh iya.. gue tunggu di sini yah Riz..” , jawab Christy sambil kebingungan. Christy mulai ragu setelah mengetahui bahwa Fariz merupakan seorang muslim dan berbeda agama dengannya.
Pada hari Minggunya, Fariz mengajak Christy untuk jalan bareng ke mall. “Chris, jalan yuuk ke mall ntar siang..” ajak Fariz. Christy dengan berat hati pun menolak “sori Riz..ntar siang gue mau ke gereja…”. Fariz yang tahu pada saat itu pun mulai ragu dan menjadi bimbang dengan apa yang dia rasakan kepada Christy.
Pada akhirnya, Fariz pun yang mengetahui bahwa mereka berbeda dalam hal keyakinan, mulai memberanikan diri untuk mengutarakan perasaannya kepada Christy. “hhmmm..Chris, gue mau ngomong serius nih..tapi gue harap lu jangan marah yah..” ucap Fariz dengan serius. Sambil tertawa kecil Christy berkata “Apaan sih lu Riz.. ya ngomong aja kali..”. “Gue..gue.. gue suka sama lu Christy.. Gue tau klo kita itu beda, gue sadar mungkin kiya gak akan bisa buat jalanin hubungan serius ke depannya.,”kata Fariz dengan tegas. “Riz..sebenernya gue juga suka sama lu.. gue kenal lu sebagai cowo yang bae, yang perhatian sama gue,,tapi emang perbedaan kita ini yang jadi penghalang..gue bingung harus gimana.. emang kita salah yah kalo kita itu beda? ”
Dan akhirnya Fariz dan Christy pun berpacaran. Dengan perbedaan yang mereka miliki, mereka saling menghargai dan saling mendukung satu sama lain.
Jadi, salahkan apabila kita berbeda???

writed by: Aprianto
Fakultas Ilmu Komunikasi

Universitas Tarumanagara

Kamis, 06 Juni 2013

Wigan, Sang Jawara yang Terdegradasi


Luar biasa melihat performa Wigan Athletic yang berhasil menaklukkan Man.City 1-0 di final FA Cup yang berlangsung di Wembley stadium (11/5). Wigan menang lewat gol tunggal Ben Watson di menit akhir pertandingan. Ini merupakan gelar pertama bagi Wigan Athletic. Dan dengan gelar jawara FA Cup ini, Wigan berhak atas satu tiket berlaga di Europa League musim depan.
Magis dan Tragis
Di tengah euforia gelar FA Cup pertamanya dengan mengalahkan The Citizens. Memang ini merupakan sebuah magis dan hasil yang tak terduga oleh banyak orang, klub kaya raya Man.City harus takluk oleh tim papan bawah EPL  dan memupuskan harapan untuk mendapatkan gelar pada musim ini.
Wigan memiliki beban untuk menentukan nasibnya di Premier League. Tim asuhan Roberto Martinez ini berhadapan dengan ‘The Gunners’ Arsenal yang juga harus berjuang untuk merebut satu tiket ke Champions League musim depan.  Dan hasilnya Wigan harus terdegradasi setelah takluk 1-4 dari Arsenal di Emirates Stadium. Arsenal menang telak lewat dua gol dari Podolski  serta masing-masing satu gol Walcott dan Ramsey. Dengan hasil tersebut Wigan masuk ke zona degradasi dan turun kasta ke Champions Division.
Nasib duo Roberto
Wigan dan City sama-sama memiliki pelatih dengan nama Roberto, Roberto Mancini di City dan Roberto Martinez di Wigan. Tapi nasib dari dua Roberto ini berbanding terbalik, Mancini dipecat oleh City setelah hasil nihil di musim ini. Gagal meraih juara EPL dan hanya duduk di posisi runner-up klasemen akhir, dan satu-satunya harapan gelar yang bisa diraih yaitu FA Cup pun harus pupus karena kalah dari Wigan. Banyak media menyebutkan bahwa Manuel Pellegrini, yang saat ini melatih Malaga yang akan menggantikan posisi Mancini. Banyak pihak yang menyatakan bahwa gol tandukan Ben Wtson di menit akhir final FA Cup adalah bentuk konspirasi pemecatan Mancini.
 Berbeda dengan nasib Roberto Martinez, meskipun Wigan harus terdegradasi tapi pihak klub tetap mempersilakan Martinez untuk melatih Wigan dan berjuang untuk kembali ke Premier League. Pihak klub Wigan pun tetap memberi keleluasaan kepada Martinez untuk menetap atau memilih klub lain. Beredar kabar bahwa Martinez telah diincar pihak Everton untuk menggantikan David Moyes yang hengkang melatih Man.United pasca ditinggal Sir Alex pensiun.  Melihat nasib dua Roberto ini, seperti pepatah ada uang abang disayang, gak ada uang abang ditendang. “Martinez disayang, Mancini ditendang”. Semoga duo Roberto ini bisa berhasil dalam menentukan nasibnya sendiri. (Ayey.)  

Dokter Soedanto, “Dokter Seribu” dari Papua



Di tengah biaya kesehatan yang begitu mahal, ada sosok dokter Soedanto yang dengan pengabdian dan cinta kasihnya yang tulus melayani masyarakat Papua. Dokter Soedanto terpilih menjadi pemenang penghargaan Liputan 6 Award kategori “Kemanusiaan“. Beliau terpilih karena telah mengabdikan dirinya di rumah sakit di Jayapura, Irian Jaya selama 40 tahun. Dokter asal Kebumen, Jawa Tengah ini dijuluki sebagai “dokter seribu“ karena setiap pasien yang datang berobat, boleh membayar asal tidak melebihi dari seribu rupiah. Dokter yang tiap harinya menerima kurang lebih 200 pasien ini ingin menciptakaan persamaan, bahwa setiap orang berhak mendapatkan pelayanan kesehatan terlepas dari apakah orang tersebut sanggup membayar atau tidak. Dokter Soedanto bertekad akan terus melayani masyarakat Papua yang membutuhkan bantuannya.

Liputan 6 Award sendiri telah sukses digelar di Gedung Arsip Nasional, Jakarta pada Kamis (23/5). Acara Liputan 6 Award ini merupakan penganugerahan bagi mereka orang-orang yang memiliki jiwa sosial tinggi.
Penganugerahan tahun ini merupakan pelaksanaan keempat dan mengusung konsep menarik yaitu diselenggarakan di tengah gedung arsip nasional yang didalamnya terdapat banyak sejarah nasional.
Puncak penganugerahan Liputan 6 Awards 2013 yang mengusung tema “Inspirasi Istimewa Indonesia”  ini memberikan lima awards meliputi Kategori Inovasi, Kategori Kemanusiaan, Kategori Lingkungan Hidup, Kategori Pemberdayaan Masyarakat, dan Kategori  Pendidikan Selain itu terdapat satu "Spesial Awards" telah diberikan kepada mereka yang telah banyak memberikan inspirasi luar biasa bagi masyarakat Indonesia dengan karya atau tindakan yang mereka lakukan.(Apr.)

Selasa, 07 Mei 2013

Artis Nyaleg, Elektabilitas Parpol Naik?

Pemilu (Pemilihan umum) 2014 sudah memasuki masa persiapan. Pesta demokrasi rakyat Indonesia akan berlangsung kurang lebih satu tahun lagi,diikuti oleh 12 partai politik yang telah lolos uji verifikasi. Tahun 2013 pun menjadi tahun politik dimana para partai politik berlomba-lomba untuk mencari suara agar masyarakat menyumbangkan suaranya pada pemilu 2014 nanti. Yang menjadi sorotan adalah pemilihan calon legislatif yang nantinya akan menjadi wakil kita di DPR. 
Dimulai dari awal tahun ini, partai politik gencar untuk membuka pengrekrutan bakal calon legislatif yang akan diusung. Daftar calon-calon legislatif pun telah disetorkan dan untuk selanjutnya diverifikasi oleh KPU (Komisi Pemilihan Umum). Dari daftar nama-nama calon legislatif terdapat banyak nama-nama publik figur, yang berprofesi sebagai artis, penyanyi, maupun atlet. Antara lain; Jane Shalimar, Ricky Subagdja, Doni Damara yang diusung Partai Nasional Demokrat (NasDem); Akri PATRIO, Krisna Mukti, Tommy Kurniawan yang diusung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB); Richhard Sam Bera, Utut Adianto yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P); Charles Bonar Sirait yang diusung Partai Golkar; Bondan Winarno, Derry Drajat yang diusung Partai Gerindra; dan tentu masih banyak nama-nama lainnya. 

Perekrutan publik figur atau artis yang diusung untuk calon legislatif dari partai politik menjadi salah satu strategi parpol dalam memperoleh suara. Tapi apakah dengan cara tersebut semata-mata akan meningkatkan popularitas dan elektabilitas masing-masing parpol? Semua kembali lagi kepada masyarakat sebagai pemilik hak suara. Masalah elektabilitas parpol mungkin tidak hanya sekedar memiliki caleg dari publik figur, tapi bagaimana parpol bisa menjembatani aspirasi masyarakat dan membuat langkah-langkah demi terciptanya kesejahteraan bagi masyarakat.

Para publik figur dan artis yang menjadi caleg memang memiliki nama terkenal dalam masyarakat, tapi permasalahannya apakah mereka sanggup untuk menanggung beban sebagai wakil rakyat nantinya. Jangan hanya karena mengikuti tren yang ada pada saat ini, para artis berlomba-lomba untuk berebut kursi di parlemen, tapi mereka harus menyuarakan aspirasi rakyat dan jangan menomorsatukan kepentingan parpol apalagi kepentingan pribadi. 

Kita sebagai masyarakat harus benar-benar menentukan pilihan yang tepat untuk pemilu 2014 nanti. Kita juga harus menjadi pengawas dalam persiapan pemilu hingga berlangsungnya nanti. (Ayey.)

Rabu, 20 Februari 2013

Pilkada Jawa Barat "Pilih Sesuai Kebutuhan"

Pemilihan Gubeernur-Wakil Gubernur Provinsi Jawa Barat akan diadakan pada hari Minggu, 24 Februari 2013. Ada lima pasang calon yang ikut dalam pertarungan mendudukin kursi nomor satu Jawa Barat. Kelima pasang itu adalah Dikdik-Cecep yang merupakan satu-satunya pasangan yang maju sebagai calon independen, Iriato (Yance)-Tatang yang diusung oleh Partai Golkar, Dede Yusuf-Lex Laksamana yang diusung oleh Partai Demokrat, Ahmad (Aher) Heryawan-Deddy Mizwar yang diusung oleh PKS dan Partai Hanura, serta pasangan Rieke (Oneng) Dyah Pitaloka-Teten Masduki yang diusung oleh PDI-P.

Ada yang menarik dari PilGub Jaar ini, yaitu ada 3 pasang Cagub-Cawagub yang merupakan publik figur atau artis. Mereka adalah Dede Yusuf yang merupakan mantan aktor laga yang juga mantan Wakil Gubernur Jabar 2008-2013, adapula artis senior tanah air yang dipinang oleh calon incumbent Ahmad  Heryawan, yaitu si Naga Bonar, Deddy Mizwar. Dan satu yang tak terlewatkan yaitu satu-satunya calon perempuan yaitu Rieke Dyah Pitaloka yang dikenal sebagai Oneng dalam perannya di sitkom 'Bajaj Bajuri'. 

Perlu menjadi satu catatan dan hal yang menggelitik juga bagi kita, ketiga artis tersebut merupakan ikon dari iklan obat yang biasa kita temukan di televisi atau media lainnya. Dede Yusuf merupakan ikon dari iklan obat sakit kepala 'Bodrex', Deddy Mizwar adalah ikon iklan obat maag 'Promag' dan iklan minuman obat panas dalam 'Cap Badak', sedangkan Rieke (Oneng) adalah ikon iklan minuman energi 'Kukubima'. 
Fenomena ini seakan menjadi satu bahan pembicaraan yang unik untuk dijadikan referensi dalam hal memilih calon mana yang harus dipilih dan yang pantas menjadi pemimpin Jabar. Mungkin dengan adanya ini, masyarakat yang memiliki hak suara bisa lebih mudah dalam memilih pemimpin mereka. Dimana saat masyarakat Jabar merasa pusing dengan masalah-masalah sosial yang ada di sekitar bisa memilih Dede Yusuf. Lalu, apabila masyarakat merasa sakit maag dan merasa gerah akan masalah hidup bisa memilih Deddy Mizwar. Dan apabila masyarakat sudah tidak kuat menghadapi hidup di Jabar, bisa memilih Rieke (Oneng).
Jadi, bagi masyarakat Jabar jangan anda sampai salah dalam memilih pemimpin anda untuk lima tahun kedepan. Pilihlah calon Gubernur-Wakil Gubernur sesuai dengan kebutuhan anda saat ini. 
Selamat berdemokrasi, gunakan hak pilih Anda!! (Ayey)

Selasa, 19 Februari 2013

Kisah Peter dan Tina



Peter dan Tina sedang duduk bersama di taman kampus tanpa melakukan
apapun, hanya memandang langit sementara sahabat-sahabat mereka sedang
asik bercanda ria dengan kekasih mereka masing-masing.

 Tina: 'Duh bosen banget. Aku harap aku juga punya pacar yang bisa
berbagi  waktu denganku.'

 Peter: 'kayaknya cuma tinggal kita berdua deh yang jomblo. cuma kita
berdua saja yang tidak punya pasangan sekarang.' (keduanya mengeluh dan
berdiam beberapa saat)

 Tina: 'Kayaknya aku ada ide bagus deh. kita adakan permainan yuk?'
 Peter: 'Eh? permainan apaan?'

 Tina: 'Eng... gampang sih permainannya. Kamu jadi pacarku dan aku jadi
pacarmu tapi hanya untuk 100 hari saja. gimana menurutmu?'
 Peter: 'baiklah... lagian aku juga gak ada rencana apa-apa untuk
beberapa  bulan ke depan.'

 Tina: 'Kok kayaknya kamu gak terlalu niat ya... semangat dong! hari ini
akan jadi hari pertama kita kencan. Mau jalan-jalan kemana nih?'
 Peter: 'Gimana kalo kita nonton saja? Kalo gak salah film The Troy lagi
maen deh. katanya film itu bagus'

 Tina: 'OK dech.... Yuk kita pergi sekarang.... ntar pulang nonton kita
ke  karaoke ya... ajak aja adik kamu sama pacarnya biar seru.'  Peter :
'Boleh juga...'  (mereka pun pergi nonton, berkaraoke dan Peter
mengantarkan Tina pulang  malam harinya)

 Hari ke 2:
 Peter dan Tina menghabiskan waktu untuk ngobrol dan bercanda di kafe,
suasana kafe yang remang-remang dan alunan musik yang syahdu membawa
hati  mereka pada situasi yang romantis. Sebelum pulang Peter membeli
sebuah  kalung perak berliontin bintang untuk Tina.

 Hari ke 3:
 Mereka pergi ke pusat perbelanjaan untuk mencari kado untuk seorang
sahabat Peter.  Setelah lelah berkeliling pusat perbelanjaan, mereka
memutuskan membeli  sebuah miniatur mobil mini. Setelah itu mereka
beristirahat duduk di  foodcourt, makan satu potong kue dan satu gelas
jus berdua dan mulai  berpegangan tangan untuk pertama kalinya.

 Hari ke 7:
 Bermain bowling dengan teman-teman Peter. Tangan tina terasa sakit
karena  tidak pernah bermain bowling sebelumnya. Peter memijit-mijit
tangan Tina  dengan lembut.

 Hari ke 25:
 Peter mengajak Tina makan malam di Ancol Bay. Bulan sudah menampakan
diri,  langit yang cerah menghamparkan ribuan bintang dalam pelukannya.
Mereka  duduk menunggu makanan, sambil menikmati suara desir angin
berpadu dengan  suara gelombang bergulung di pantai. Sekali lagi Tina
memandang langit,  dan melihat bintang jatuh. Dia mengucapkan suatu
permintaan dalam hatinya.

 Hari ke 41:
 Peter berulang tahun. Tina membuatkan kue ulang tahun untuk Peter.
Bukan  kue buatannya yang pertama, tapi kasih sayang yang mulai timbul
dalam  hatinya membuat kue buatannya itu menjadi yang terbaik. Peter
terharu  menerima kue itu, dan dia mengucapkan suatu harapan saat meniup
lilin  ulang tahunnya.

 Hari ke 67:
 Menghabiskan waktu di Dufan. Naik halilintar, makan es krim bersama,dan
mengunjungi stand permainan. Peter menghadiahkan sebuah boneka teddy
bear  untuk Tina, dan Tina membelikan sebuah pulpen untuk Peter.

 Hari ke 72:
 Pergi Ke PRJ. Melihat meriahnya pameran lampion dari negeri China. Tina
penasaran untuk mengunjungi salah satu tenda peramal. Sang peramal hanya
mengatakan 'Hargai waktumu bersamanya mulai sekarang' kemudian peramal
itu  meneteskan air mata.

 Hari ke 84:
 Peter mengusulkan agar mereka refreshing ke pantai. Pantai Anyer sangat
sepi karena bukan waktunya liburan bagi orang lain. Mereka melepaskan
sandal dan berjalan sepanjang pantai sambil berpegangan tangan,merasakan
lembutnya pasir dan dinginnya air laut menghempas kaki mereka. Matahari
terbenam, dan mereka berpelukan seakan tidak ingin berpisah lagi.

 Hari ke 99:
 Peter memutuskan agar mereka menjalani hari ini dengan santai dan
sederhana.  Mereka berkeliling kota dan akhirnya duduk di sebuah taman
kota.

 15:20 pm
 Tina: 'Aku haus. Istirahat dulu yuk sebentar. '
 Peter: 'Tunggu disini, aku beli minuman dulu. Aku mau teh botol saja.
Kamu  mau minum apa?'
 Tina: 'Aku saja yang beli. kamu kan capek sudah menyetir keliling kota
hari ini. Sebentar ya'  Peter mengangguk. kakinya memang pegal sekali
karena dimana-mana Jakarta  selalu macet.

 15:30 pm
 Peter sudah menunggu selama 10 menit and Tina belum kembali juga.
Tiba-tiba seseorang yang tak dikenal berlari menghampirinya dengan wajah
panik.  Peter : 'Ada apa pak?'  Orang asing: 'Ada seorang perempuan
ditabrak mobil. Kayaknya perempuan itu  adalah temanmu'

 Peter segera berlari bersama dengan orang asing itu. Disana, di atas
aspal  yang panas terjemur terik matahari siang, tergeletak tubuh Tina
bersimbah  darah, masih memegang botol minumannya. Peter segera
melarikan mobilnya  membawa Tina ke rumah sakit terdekat. Peter duduk
diluar ruang gawat  darurat selama 8 jam 10 menit. Seorang dokter keluar
dengan wajah penuh  penyesalan.

 23:53 pm
 Dokter: 'Maaf, tapi kami sudah mencoba melakukan yang terbaik. Dia
masih  bernafas sekarang tapi Yang kuasa akan segera menjemput. Kami
menemukan  surat ini dalam kantung bajunya.'

 Dokter memberikan surat yang terkena percikan darah kepada Peter dan
dia  segera masuk ke dalam kamar rawat untuk melihat Tina. Wajahnya
pucat  tetapi terlihat damai. Peter duduk disamping pembaringan tina dan
menggenggam tangan Tina dengan erat.

 Untuk pertama kali dalam hidupnya Peter merasakan torehan luka yang
sangat  dalam di hatinya. Butiran air mata mengalir dari kedua belah
matanya.  Kemudian dia mulai membaca surat yang telah ditulis Tina
untuknya.

 Dear Peter...
 ke 100 hari kita sudah hampir berakhir. Aku menikmati hari-hari yang
kulalui bersamamu.  Walaupun kadang-kadang kamu jutek dan tidak bisa
ditebak,tapi semua hal  ini telah membawa kebahagiaan dalam hidupku. Aku
sudah menyadari bahwa kau  adalah pria yang berharga dalam hidupku. Aku
menyesal tidak pernah  berusaha untuk mengenalmu lebih dalam lagi
sebelumnya. Sekarang aku tidak  meminta apa-apa, hanya berharap kita
bisa memperpanjang hari-hari  kebersamaan kita. Sama seperti yang
kuucapkan pada bintang jatuh malam itu  di pantai, Aku ingin kau menjadi
cinta sejati dalam hidupku. Aku ingin  menjadi kekasihmu selamanya dan
berharap kau juga bisa berada disisiku  seumur hidupku. Peter, aku
sangat sayang padamu.

 23:58
 Peter: 'Tina, apakah kau tahu harapan apa yang kuucapkan dalam hati
saat  meniup lilin ulang tahunku? Aku pun berdoa agar Tuhan mengijinkan
kita  bersama-sama selamanya.  Tina, kau tidak bisa meninggalkanku! hari
yang kita lalui baru berjumlah  99 hari! Kamu harus bangun dan kita akan
melewati puluhan ribu hari  bersama-sama! Aku juga sayang padamu, Tina.
Jangan tinggalkan aku, jangan  biarkan aku kesepian! Tina, Aku sayang
kamu...!'

 Jam dinding berdentang 12 kali.... jantung Tina berhenti berdetak.

 Hari itu adalah hari ke 100...

 PS :
 * Katakan perasaanmu pada orang yang kau sayangi sebelum terlambat.
 * Kau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi besok.
 * Kau tidak akan pernah tahu siapa yang akan meninggalkanmu dan tidak
akan  pernah kembali lagi.

• AKU MENANGIS UNTUK ADIKKU 6 KALI

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil.

Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.:

"Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya.

Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan :

"Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!".

Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata :

"Ayah, aku yang melakukannya! ".

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi,:

"Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? ... Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!".

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata :

"Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11. Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut :

"Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik...hasil yang begitu baik..."

Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas. Sambil berkata :

"Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?".

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata :

"Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku."

Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya sambil berkata :

"Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya?. Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!".

Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata :

"Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.".

Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku:

"Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.".

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang.

Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas) . Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan :

" Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana !".

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, :

"Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?"

Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu? "

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku :

"Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu. ..".

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan :

"Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu."

Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis.

Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23. Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!" Tetapi katanya, sambil tersenyum :

"Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..".

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya.aku bertanya :

"Apakah itu sakit?".

"Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..." Ditengah kalimat itu ia berhenti.

Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku.

Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26. Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan :

"Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini."

Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu :

"Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. :

"Pikirkan kakak ipar...ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?"

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah:

"Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!"

"Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya :

"Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?".

Tanpa bahkan berpikir ia menjawab :

"Kakakku."

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat :

"Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya."

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.

Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku akhirnya keluar juga :

"Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku."

Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.